Kisah toleransi mahasiswi kristen
Kisah toleransi mahasiswi kristen di FIK UMJ
Di suatu kampus,
Angin dengan lembut mengibasi para mahasiswa dan siswi di kampus mereka, suara obrolan kecil saling ditukarkan oleh mereka sebelum jam pelajaran.
"Eh, kamu udah denger belum, katanya kan kelas kita kedatangan murid baru loh"
Bisik seorang siswi perempuan di kelas, temen sebelahnya mengangguk.
"Iya, aku baru denger-denger aja sih"
Bel jam masuk pelajaran berbunyi, murid-murid langsung berhenti mengobrol dan segera menyiapkan buku-buku.
Suara langkah kaki terdengar dan dosen mereka memasuki kelas.
"Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" salam sang dosen.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab semua murid kelas serentak dan halus.
"Baiklah, ibu ada kabar untuk kalian semua. Kelas kita kedatangan murid baru dari daerah yang tidak terlalu jauh"
Sang dosen melirik ke arah luar pintu dan meminta seorang mahasiswi untuk masuk.
Seorang mahasiswi masuk, namun ia tidak menggunakan hijab dan rok yang tidak terlalu panjang sampai tulang keringnya terlihat.
Murid-murid yang melihat langsung berbisik , sekolah mereka ini adalah sekolah khusus Islam dan mengapa siswi ini bisa masuk?
"Baiklah nak, perkenalkan dirimu" ucap sang dosen lembut dan ramah.
Mahasiswa itu mengangguk canggung sebelum melirik ke arah teman-temannya.
"Halo, selamat pagi semuanya... Namaku Kristin.. salam kenal.." ucapnya canggung.
"Salam kenal juga! Kristin!" Jawab semua murid dengan ramah dan welcoming.
Kristin sedikit kaget, ia mengira semuanya akan heran dan memandangnya berbeda.
Setelah perkenalan, sang dosen meminta Kristin mendekat ke mejanya.
"Kristin, kamu tidak usah mengikuti pelajaran AIK ya. Sebagai gantinya, kamu bisa minta kirimkan surat izin dari gereja dan kasih ke ibu ya"
Kristin tersenyum manis dan mengangguk, "baik Bu, terima kasih atas toleransinya"
Sang dosen balik tersenyum, "sama-sama"
Saat jam istirahat, beberapa mahasiswi kelasnya menghampiri Kristin dan mengajaknya berteman.
"Kristinnn, mau jadi temanku nda??" Tanya Eca, teman-temannya yang lain mengangguk dengan arti menanyakan hal yang sama.
Kristin mengangguk senang, "bolehh!"
Seluruh orang dikampus sangat menoleransi Kristin dan saling berbuat baik.
Saat ada praktek sholat, Kristin diizinkan untuk membaca buku atau menunggu temannya di kelas.
Ia tidak pernah dipaksa untuk mengikuti praktek soal agama Islam dan pelajaran khususnya, ia senang bisa bersekolah dan berteman di kampus ini.
Dari cerita ini, kita bisa petik bahwa bunga bisa ditanam di kebun yang sama dengan keindahannya masing-masing.
Walau memiliki jenis yang berbeda, bunga itu tetaplah ciptaan Tuhan dan memiliki keindahan yang berbeda namun disatukan dengan satu kata, yaitu 'indah'.
Kita harus toleransi antar agama, suku dan kebudayaan masing-masing, ingat yaa Indonesia memiliki ribuan pulau, suku, agama, dan kebudayaan yang sangat beragam!
Selamanya kita ingat 'Bhinneka Tunggal Ika'
Komentar
Posting Komentar